![]() |
| Achmad Yani Rivai Yusuf, S.H., M.Si., atau akrab disapa Bang Yani (kiri) dan Dr. Risman Pasaribu, Anggota Dewan Pakar KAHMI Nasional. (Foto:Kolase/Ist) |
PENA NUSANTARA
Gelombang pagi di Kepulauan Seribu tidak pernah bisa diprediksi. Kadang tenang, kadang mengguncang perahu kayu yang menjadi transportasi utama warga. Begitulah kehidupan masyarakat di gugusan pulau itu: sederhana, penuh keterbatasan, tetapi juga sarat dengan harapan bahwa negara benar-benar hadir.
Di wilayah yang sering terasa jauh dari hiruk pikuk ibu kota inilah Achmad Yani Rivai Yusuf, S.H., M.Si., atau akrab disapa Bang Yani, menjalankan tugasnya. Ia kini menjabat sebagai Kepala Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi Daerah Khusus Jakarta.
Jabatan itu mungkin terdengar administratif. Tetapi, di baliknya, tersimpan tanggung jawab besar: menjaga stabilitas politik, membina kerukunan umat beragama, mengawasi organisasi masyarakat (ormas), hingga menguatkan partisipasi politik warga. Semua itu menjadi pondasi agar pembangunan bisa berjalan.
“Beliau sadar betul bahwa seragam dan gaji yang diterima itu dari rakyat. Karena itu, ia merasa pejabat harus melayani rakyat dengan baik dan ramah,” kata Dr. Risman Pasaribu, Anggota Dewan Pakar KAHMI Nasional.
Forum Ormas di Aula Pulau
Foto di atas memperlihatkan salah satu kesibukan Bang Yani di sebuah aula sederhana. Di depan, sebuah banner terpampang jelas:Di balik meja panjang berlapis taplak biru, Bang Yani duduk bersama beberapa pejabat lain, termasuk aparat kepolisian. Di hadapan mereka, sejumlah perwakilan ormas memperhatikan. Mikrofon, catatan, dan gelas minum teratur di atas meja—pertanda forum itu bukan sekadar seremoni, melainkan ruang dialog.
Di forum itu, Bang Yani mendorong agar ormas menjadi mitra pemerintah, bukan sekadar penonton. Ormas, menurutnya, memiliki potensi besar dalam pembangunan: dari mendukung program sosial, membantu edukasi warga, hingga menjaga kerukunan antarumat.
Kehadiran polisi dalam forum itu juga menunjukkan pentingnya sinergi. Di kepulauan, persoalan kecil bisa cepat membesar bila tidak segera diantisipasi. “Tugas kami bukan hanya menjaga aturan, tapi juga memastikan ormas bisa ikut serta membangun wilayah ini,” ujarnya.
Menghubungkan Pusat dan Pulau
Bang Yani memosisikan dirinya bukan hanya sebagai pejabat yang menandatangani dokumen, melainkan juga sebagai jembatan komunikasi. Ia memilih hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung keluhan, dan memberi ruang bagi warga untuk terlibat.
“Beliau itu gigih, tekun, disiplin, sabar, tetapi juga tegas. Jujur, multi talenta, dan punya integritas. Kita tinggal menunggu kepercayaan untuk lebih maju lagi guna mengabdi kepada bangsa dan negara,” tambah Risman.
Harapan untuk Kepulauan Seribu
Jakarta sering identik dengan gedung pencakar langit, jalan tol layang, dan pusat bisnis. Namun, Kepulauan Seribu adalah wajah lain dari ibu kota: lebih banyak keterbatasan, namun juga penuh peluang. Masyarakatnya memerlukan pejabat yang bukan hanya pintar berteori, tetapi juga rela turun ke dermaga, menyapa nelayan, mendengar tokoh agama, dan berdialog dengan ormas.Bang Yani mencoba mengisi ruang itu. Dengan gayanya yang sederhana, ia mengingatkan kembali bahwa pejabat adalah pelayan. Bahwa seragam dan tanda pangkat bukan sekadar atribut, melainkan amanah.
Di pulau-pulau yang jauh dari pusat kota, sosok seperti Bang Yani adalah jawaban. Bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia memahami satu hal penting: rakyat ingin didengar, dihargai, dan dilayani.
[mp]


0 Komentar